Fatkhurrahman Maulana Akbar
Catatan 1 : Kultur sekolah
Nama : Fatkhurrahman Maulana Akbar
Kelas : 4i
Sebagai sumber pembelajaran yang digunakan baik dari segi media apapun itu, Kultur sekolah adalah budaya sekolah yang menjadi ciri dan nilai unggul sekolah, kultur sekolah yang dikembangkan diantaranya : Efektifitas sekolah, terutama efektifitas pembelajaran. Contoh Kultur Pendidikan disekolah yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai religius, norma sosial, etika dan moral. Membangun jembatan antara visi, misi, dan aksi. Kepala Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat beberapa aspek budaya utama yang direkomendasikan untuk dikembangkan dalam rangka membentuk karakter siswa SMA yaitu (1) budaya membaca, (2) budaya jujur, (3) budaya bersih, (4) budaya disiplin, (5) budaya kerjasama, (6) budaya saling percaya, dan (7) budaya berprestasi. Kultur sekolah akan mendorong terbentuknya stabilitas dan dinamika sosial yang berkualitas. Hal ini penting agar lingkungan sekolah menjadi kondusif tidak terganggu oleh konflik yang akan menghambat peningkatan mutu pendidikan.
Kultur sekolah berperan dalam mengembangkan prestasi siswa melalui nilai-nilai utama dan nilai pendukung; yaitu nilai berprestasi; kedisiplinan; kebersihan dan religi. Adapun nilai pendukung seperti tanggung jawab; kejujuran; toleransi, yang dibudayakan melalui tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. Konsep kultur di dunia pendidikan merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses pembelajaran yangefektif dan efisien. Djemari(2004) menyatakan bahwa kultur sekolah yang positif dapat memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah serta membuat suasana lebih aman dan nyaman. Dengan budaya sekolah mampu menjadikan lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mewujudkan kualitas pendidikan yang baik selaras dengan visi maupun misi sekolah serta dapat mengoptimalkan kinerja guru, kepala sekolah, karyawan dan siswa sehingga hasilnya optimal sesuai dengan harapan.
Jadi, kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani. Budiningsih menyatakan dalam suatu organisasi (termasuk lembaga pendidikan), budaya diartikan sebagai tindakan dan norma. Pertama, tindakan yaitu keyakinan dan tujuan yang dianut bersama yang dimiliki oleh anggota organisasi yang potensial membentuk perilaku mereka dan bertahan lama meskipun sudah terjadi pergantian anggota. Dalam lembaga pendidikan misalnya, budaya ini berupa saling menyapa, saling menghargai, toleransi dan lain sebagainya. Kedua, norma perilaku yaitu cara berperilaku yang sudah lazim digunakan dalam sebuah organisasi yang bertahan lama karena semua anggotanya mewariskan perilaku tersebut kepada anggota baru. Dalam lembaga pendidikan, perilaku ini antara lain berupa semangat untuk selalu giat belajar, selalu menjaga kebersihan, bertutur sapa santun dan berbagai perilaku mulia lainnya.
Kultur sekolah beroperasi secara tidak disadari oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan hubungan internal serta eksternal. Hal ini perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang telah berurat berakar akan dapat menghambat introduksi perilaku baru yang diinginkan. Stolp dan Smith [7] membedakan antara kultur sekolah dan iklim sekolah. Kultur sekolah merupakan hal-hal yang sifatnya historis dari berbagai tata hubungan yang ada dan hal-hal tersebut telah diinternalisasikan oleh warga sekolah. Sedangkan iklim sekolah berada di permukaan dan berisi persepsi warga sekolah terhadap aneka tata hubungan yang ada saat ini. Kultur sekolah memiliki tiga lapisan kultur yaitu:
a) Artifak di permukaan,
b) Nilai-nilai dan keyakinan di tengah, dan
c) Asumsi yang berada di lapisan dasar.
Komentar
Posting Komentar